Limbah pada bak Aerasi Menghitam (WWTP Perbengkelan)

Assalamualaykum teman-teman pada bahasan kali ini aku akan sharing mengenai trouble proses WWTP system batch (limbah perbengkelan yang menagndung oli, oil & fat), dengan case air outlet yg sudah jernih tiba-tiba menghitam dan terkadang aerasi masih berbau dan tiba-iba menghitam.
Sebelum menentukan akar dari permasalahan ini, mari kita simak bagaimana flowproses dari WWTP yang mengolah limbah dari aktivitas perbengkelan ini.

Tonton video penjelasnnya pada link di bawah ini :


Tahapan Pengolahan
1. Bak Equalisasi (Ditampung untuk menyamakan karakteristik sebelum diolah)
2. Oil trap (memisahkan limbah dari minyak, oli, dan bahan lainnya)
3. Outlet dari oiltrap akan dialirkan menuju bak koagulasi untuk ditambahkan koagulan dan kemudian akan ditambahkan polimer sebagai flokulan
4. Bak Koagulasi (Air limbah yang sudah terpisah dari oli dan minyak diberikan koagulan)
5. Bak Flokulasi (dialirkan menuju bak koagulasi untuk ditambahkan polimer agar ukuran flok semakin besar dan mudah mengendap)
6. Biological treatment (menggunakan aerasi yg ditambahkan biowaste) limbah diaerasi 24 jam, setelah 24 jam limbah diberikan kaporit pada bak yang sama pula kemudian diendapkan.

Root Cause
Akar permasalahan dari WWTP ini yaitu biological treatment yg kurang maksimal dengan detail
1. Kekurangan DO (yg mambuat bakteri sulit tumbuh dan degradasi limbah tidak maksimal)
2. Waktu tinggal yg kurang lama (mambuat limbah yg diolah masih memiliki nilai COD yg tinggi dan menyebabkan limbah berbau meskipun terlihat jernih dan tiba-tiba menghitam)
3. Penambahan kaporit pada bak aerasi (dapat membunuh bakteri yg sudah tumbuh sehingga perlu seeding ulang setiap kali limbah ingin diolah)

Action Sederhana
1. Seeding ulang bakteri pada bak aerasi
2. Kemudian tambah waktu tinggal pengolahan menjadi 2-3 hari
3. Tambahkan bak atau tanki terpisah untuk pemberian kaporit dan jangan tambahkan kaporit kedalam bak aerasi
4. Jika proses telah stabil, ubah system batching menjadi system continuous agar tidak perlu seeding bakteri berulang-ulang

Pre Action
Pertanyaan yg harus dijawab untuk menentukan action yang akan dilakukan
Untuk actionnya sendiri sebenarnya tergantung dari sikon perusahaan khususnya WWTP
1. Apakah kekurangan DO disebabkan oleh spesifikasi blower yang kecil atau tidak sesuai?
2. Apakah terdapat diffuser pada output udara blower?
3. Apakah operasional blower sudah tepat? Spek sesuai tapi hanya dinyalakan 1 blower, malam hanya dinyalakan 1
4. Apakah debit inlet aerasi lebih besar dari biasanya?
5. Apakah debit limbah inlet aerasi bisa dikurangi tanpa atau dengan mengurangi jumlah produksi?

Detail Action
Jika teman-teman tidak memiliki data untuk menjawab pertanyaan tersebut maka lakukan action sederhana berikut :
A. Aklimatisasi dan Seeding Bakteri
a. Masukan air sebanyak 160 L kedalam tong biru dan tambahkan biowaste dan nutrisi dengan perbandingan yg sudah ada, tambahkan 2 unit aerator untuk proses aerasi biowaste sampai seterusnya.
b. Cek SV30 (sludge volume yg mengendap selama 30 menit) setelah diaerasi selama 1 hari dengan cara mengambil sampelnya sebanyak 1 L dan diamkan sampel selama 30 menit perhatikan apakah ada endapan yg terbentuk atau tidak lalu difoto sebagai dokumentasi
c. Ulangi poin a dan b di hari berikutnya, tetap nyalakan aerator untuk proses aerasi demi menjaga pemenuhan kebutuhan oksigen bakteri
d. Jika bakteri sudah tumbuh ditandai dengan munculnya endapan SV30 maka bakteri bisa dipakai pada tanki biological treatment (gunakan 100 L dari total 160 L, kemudian tambahkan kembali air 100 L, biowaste, dan nutrisi dengan perbandingan yg sudah ada kedalam tong biru)
B. Recovery proses Aerasi (Tanki Biological Treatment)
a. Pastikan limbah yg masuk pada bak aerasi memiliki pH yg netral dengan rentang 6-8
b. Usahakan dilakukan pengukuran DO pada aerasi, jika tidak memiliki DO meter untuk mengukur nilai DO aerasi, cukup nyalakan semua blower yg ada. Nyalakan blower meskipun sedang tidak ada limbah baru yg masuk untuk memastikan jumlah DO aerasi mencukupi kebutuhan bakteri. Hal ini juga menjaga agar limbah pada bak aerasi tidak menghitam dan mengurangi bau pada bak Aerasi.
c. Tetap tambahkan biowaste dan nutrisi pada bak aerasi meskipun tidak ada limbah baru yg masuk, jangan gunakan bakteri yg sedang deseeding dan aklimatisasi jika bakterinya belum matang.
d. Lakukan pengecekan SV30 sebagaimana yg dilakukan pada point A.b
e. Jika terdapat biological flok yg mengendap difoto sebagai dokumentasi untuk mengetahui perkembangan recovery proses
f. Tambahkan bak atau tanki terpisah untuk pemberian kaporit, jika kaporit diberikan pada bak aerasi maka kaporit akan meracuni bakteri aerasi yg menyebabkan trouble pada proses pengolahan biologi.
C. Mengubah system pengolahan dari system batch menjadi system continuous

Ok teman-teman sekian sharing aku kali ini lebih dan kurangnya mohon maaf, jika teman-teman ingin bertanya bisa ditulis pada kolom komentar.
Wassalamualaykum warohmatullahi wabarokatuh

JASA KONSULTASI HUBUNGI WA/EMAIL

Harga akan disesuaikan dengan kebutuhan client dan bisa memilih paket jasa konsultasi yang telah kamin sediakan
089678475381
kurogiriaoyama@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top