Penyebab Nilai SV30 Tinggi dan Cara Mengatasinya (trouble proses aerasi wwtp)
Hasil SV30 yang tinggi dan supernatan yang masih keruh

Hasil SV30 yang tinggi dan supernatan yang masih keruh

Tonton juga penjelasannya pada video berikut:

Banyak kemungkinan faktor yang dapat menyebabkan nilai SV30 tetap tinggi, padahal nilai SV30 biasanya ditargetkan hanya 30-50% atau 300-500 mL/L. Berikut beberapa penyebab SV30 aerasi tetap tinggi:

  • MLSS yang tinggi (Menyesuaikan atau menurunkan standar MLSS Aerasi)
  • Nilai DO yang rendah (Menyesuaikan standar DO)
  • Debit inlet aerasi yang fluktuatif dan/atau over (Mengatur rentang debit inlet Aerasi)
  • COD inlet yang tinggi (Maksimalkan proses pre treatment untuk mengurangi COD inlet Aerasi)
  • pH inlet aerasi yang tidak netral (Proses netralisasi tidak ada atau kurang maksimal)

Berikut penjelasan setiap poin di atas agar lebih mudah dipahami

1.    MLSS yang tinggi (Menyesuaikan atau menurunkan standar MLSS Aerasi)

MLSS yang tinggi biasa dianggap sbg kondisi yang bagus bagi bak aerasi, padahal jumlah MLSS juga harus disesuikan dengan kondisi aerasi, hal ini berpengaruh pada kinerja clarifier dan nilai SV30. Nilai MLSS yang tinggi berpotensi menyebabkan sludge bulking yang parah pada clarifier meskipun flok clarifer sering dikuras, bulking akan tetap muncul dalam jangka waktu yang pendek. Selain itu juga nilai MLSS yg tinggi membuat nilai SV30 terlihat tinggi, tidak semua bak aerasi harus memiliki rentang nilai MLSS yang tinggi misalkan 3.000-10.000 ppm. Terkadang nilai MLSS 1500-2000 atau bahkan 1000 ppm sudah cukup untuk mendegradasi COD inlet aerasi 1500-2500 ppm.

2.    Nilai DO yang rendah (Menyesuaikan standar DO)

DO yang rendah sangat sering terjadi sehingga proses degradasi limbah pada bak aerasi menjadi kurang optimum. Nilai DO yang rendah membuat proses degradasi limbah menjadi kurang maksimal, hal ini dapat dilihat dari outlet aerasi yang masih berbau dan warna supernatant pada imhoff cone yang keruh. Flok aerasi yang terbentuk dalam kondisi ini biasanya sangat halus dan ringan sehingga sulit mengendap yang dapat dilihat dari nilai SV30 yang tinggi.

Proses degradasi limbah pada bak aerasi membutuhkan kadar DO yang cukup, biasanya nilai DO dijaga pada angka 2-5 ppm tergantung pada situasi dan kondisi WWTP saat ini. Nilai DO dijaga pada rentang tersebut untuk memastikan bakteri mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Meskipun nilai DO menunjukan angka yang cukup tinggi, hal tersebut tidak menjamin bahwa DO sudah mencukupi kebutuhan bakteri aerasi. Outlet udara blower yang tidak diberikan diffuser disc, ecorator, atau komponen yang setara (komponen tersebut membuat ukuran gelembung udara menjadi sangat halus sehingga memperbesar kemungkinan oksigen untuk larut di dalam air limbah) ukuran gelembung udara yang dihasilkan cenderung besar dan menurunkan waktu kontak antara udara dengan limbah. Hal tersebut memaksa kita untuk meningkatkan jumlah DO dengan cara menambah unit blower yang beroperasional (menyalakan lebih dari satu unit blower untuk operasional selama 24 jam). Gelembung udara yang besar dapat menyebabkan bakteri sulit untuk mendegradasi limbah bahkan sulit untuk tumbuh sehingga limbah pada bak aerasi akan tetap keruh dan berbau.

Nilai DO yang tinggi tidak selalu menandakan proses pada bak aerasi berjalan dengan lancar. Muncul pertanyaan apakah DO pada bak aerasi sudah digunakan oleh bakteri atau tidak?

Karena nilai DO yang terukur pada DO meter merupakan sisa oksigen terlarut yang berlebih atau tidak digunakan oleh bakteri, selain itu juga ada istilah over aeration sehingga perlu dilakukan trial dan pengamatan untuk mencari rentang min dan max nilai DO pada aerasi.

3.    Debit inlet aerasi yang fluktuatif dan/atau berlebihan (Mengatur rentang debit inlet Aerasi)

Debit inlet aerasi mempengaruh jumlah beban pencemar (COD volumetric load) yang akan diolah oleh bakteri aerasi. Debit yang fluktuatif akan membuat bakteri kesulitan beradaptasi (mempengaruhi kemampuan bakteri dalam mendegradasi limbah) untuk mengolah limbah (debit limbah yang awalnya rendah dan naik tiba-tiba akan dianggap shock load atau over load oleh bakteri sehingga aerasi masih keruh dan berbau bahkan sehingga nilai SV30 menjadi tinggi bahkan flok tidak bisa mengendap) karena debit yang sangat fluktuatif mempengaruhi waktu tinggal limbah pada bak aerasi (waktu yang digunakan bakteri untuk mendegradasi limbah sampai limbah tersebut cukup jernih dan tidak berbau). Semakin tinggi debit limbah maka waktu tinggal limbah pada bak aerasi akan semakin berkurang, dan begitupula sebaliknya semakin rendah debit limbah maka waktu tinggal limbah pada bak aerasi akan semakin bertambah.

Debit limbah sebaiknya diatur dengan rentang ±30 m³/day, misalkan saja debit olahan limbah ada pada angka 300 m³/day maka rentang kurang dan lebih pengolahannya 270 dan 330 m³/day. Debit limbah sebaiknya diatur agar waktu tinggal pada bak aerasi minimal 2 hari (jika memungkinkan dengan memperhatikan situasi dan kondisi WWTP beserta produksi yang sedang berjalan) dengan cara membagi volume bak aerasi dengan debit inlet limbah pada bak aerasi dengan rumus t = V. Bak aerasi/Q inlet limbah.

Q: Debit limbah (m³/day)

V: Volume (m³)

t: Waktu (day atau hari)

4.    Kemudian faktor yang terakhir yaitu COD inlet yang tinggi (Maksimalkan proses pre treatment untuk mengurangi COD inlet Aerasi)

Efisiensi removal COD pada bak aerasi berbeda-beda, berkisar antara 60-90% tergantung dari COD inlet yang masuk pada bak aerasi dan kondisi yang ada. COD inlet yang tinggi membuat bakteri harus bekerja ekstra dalam mendegradasi bahan pencemar, jika COD inlet aerasi berlebihan justru akan menjadi racun bagi bakteri yang menyebabkan regenerasi bakteri terhambat. Bakteri yang seharusnya melewati fase stasioner atau fase tua yang bisa kita lihat sebagai flok berwarna coklat tua malah mati lebih cepat dan hanya menyisakan bakteri muda yang kita lihat sebagai flok yang berwarna coklat muda. Meskipun terdapat bakteri muda, regenerasinya menjadi lebih lambat yang menyebabkan nilai MLSS aerasi turun secara drastis. Kondisi seperti ini bisa kita jumpai dengan ciri-ciri limbah pada aerasi berwarna coklat muda, MLSS yang rendah akan tetapi nilai SV30 tetap tinggi.

Salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini, yaitu memaksimalkan proses pre treatment sebelum limbah masuk pada bak aerasi. Dissolved Air Floatation System atau yg biasa disingkat sebagai DAF sangat sering digunakan sebagai unit dalam proses pre treatment. COD removal dari Unit berkisar antara 20-40% atau mengurangi COD sampai batasan tertentu sebelum diolah pada bak aerasi, pada unit ini bisanya terdapat beberapa proses yaitu netralisasi untuk mentralkan pH limbah yang akan masuk pada bak aerasi, koagulasi untuk mengurangi TSS, flokulasi untuk memperbesar ukuran flok, dan floatasi untuk mengapungkan flok yang terbentuk yang nantinya akan diolah pada unit pengolahan lumpur.  

Ok teman-teman sekian sharing aku pada artikel kali ini lebih dan kurangnya mohon maaf, jika teman-teman ingin bertanya bisa ditulis pada kolom komentar, jangan lupa like dan share jika teman-teman suka. 

https://youtube.com/@AlfianWWTP2305?feature=shared

Jasa konsultasi seputar WWTP bisa hubungi

kurogiriaoyama@gmail.com

pricelist akan diberikan ketika sudah mengirimkan email, konsultasi akan dilanjutkan via WA jika sudah deal terkait harga

Wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top